Bagian Yang Diterima Oleh Ahli Waris

Hai Pembaca Setia, Kali ini Pengantar Hukum akan membahas mengenai bagian yang diterima oleh ahli waris.
 
 
Berdasarkan asas keadilan dan keseimbangan sebagaimana yang telah dibicarakan di atas, maka Hukum Waris Islam menempatkan hak waris antara laki-laki dan perempuan secara proporsional. Hal ini disesuaikan dengan tugas kewajiban yang diemban oleh mereka. Selain bahwa di dalam hukum waris Islam juga didasarkan atas asas ijbari, yaitu jumlah mana yang harus diterima oleh masing-masing ahli waris telah ditentukan berdasarkan ketentuan baku, yaitu berdasarkan Alquran dan As Sunnah.
 
 
Sesuai dengan prinsip bahwa ahli waris pokok memiliki hak mutlak atas warisan, yang mana mereka tidak pernah disingkirkan oleh ahli waris manapun, sedangkan mereka dapat menyingkirkan ahli waris yang lain. Ahli waris pokok tersebut meliputi : (1) suami atau isteri; (2) anak laki-laki; (3) anak perempuan; (4) ayah; dan (5) ibu.
 
1. Bagian Suami atau Isteri
 
Suami-Isteri adalah satu-satunya ahli waris atas dasar penggabungan. Tidak ada seorang ahli waris lain satu pun yang dapat menghalangi hak waris mereka ataupun menggeser (hijab). Bagian suami adalah : (1) 1/2 bagian, jika tidak meninggalkan anak-cucu; dan (2) 1/4 bagian, jika pewaris meninggalkan anak-cucu (Pasal 179 Kompilasi Hukum Islam). Sedangkan bagian Isteri adalah : (1) 1/4 bagian, jika meninggalkan anak-cucu; dan (2) 1/8 bagian, jika pewaris meninggalkan anak-cucu (Pasal 180 Kompilasi Hukum Islam). Jika Isteri lebih dari satu mereka dianggap sebagai satu isteri.
 
 
2. Bagian Anak
 
Atas dasar garis keturunan, anak memiliki hak waris atas harta peninggalan ibu-bapaknya. Yang dimaksud anak di sini adalah anak sah dari suatu perkawinan yang sah. Bagian yang diterima oleh anak adalah : (1) jika anak laki-laki sendiri, maka ia memperoleh semua harta ibu-bapaknya; (2) jika anak perempuan seorang diri ia mendapat 1/2 bagian; (3) Jika terdiri dari dua anak atau lebih anak perempuan, masing-masing mendapat 2/3 bagian; dan (4) jika anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki 2 : 1 dengan perempuan (Pasal 176 Kompilasi Hukum Islam).
 
 
3. Bagian Orang tua
 
a. Ayah
Hak waris ayah terhadap harta peninggalan diatur dengan Pasal 177 Inpres No. 1 Tahun 1991, yaitu : (1) Jika pewaris tidak meninggalkan anak, maka ayah mendapat 1/3 bagian; (2) jika pewaris meninggalkan anak, maka ayah mendapat 1/6 bagian.
b. Ibu
Menurut Pasal 178 Inpres No. 1 Tahun 1991 : (1) Jika pewaris meninggalkan anak atau dua saudara atau lebih, hak ibu 1/6 bagian; (2) Jika pewaris tidak meninggalkan anak, maka hak ibu 1/3 bagian dari sisa, sesudah diambil janda atau duda bila bersama-sama bapak.
 
 
4. Saudara
 
Saudara akan menerima hak waris, jika waris pokok tersebut di atas semua tidak ada atau berdasarkan hukum dinyatakan tidak ada.
a. Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu
Pasal 181 Inpres No. 1 Tahun 1991 menentukan bagian saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu selaku ahli waris, yaitu : (1) Jika pewaris tidak meninggalkan anak dan ayah, hak mereka 1/6 bagian; dan (2) Jika mereka dua orang atau lebih, hak mereka bersama-sama 1/3 bagian.
 
b. Saudara perempuan sekandung dan seayah
Bagian yang diterima menurut Pasal 182 Inpres No. 1 Tahun 1991 adalah : (1) Satu saudara, mendapatkan 1/2 bagian; (2) dua atau lebih saudara perempuan, maka bersama-sama mendapat 2/3 bagian; dan (3 Saudara perempuan bersama dengan saudara laki-laki, maka bagian saudara laki-laki 2 : 1 dengan saudara perempuan.
 
 
5. Anak Luar Kawin
 
Dalam Islam anak luar kawin terdiri dari anak zina dan anak li’an. Anak zina adalah sebagai hasil hubungan di luar pernikahan sah. Sedangkan anak li’an adalah anak yang diingkari keabsahannya oleh ayahnya.
Berbeda dengan Hukum Perdata Bara, dalam Hukum Islam anak luar kawin hanya memiliki hubungan mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya (Pasal 186 Inpres No. 1 Tahun 1991), Contohnya, yang meninggal (si pewaris) adalah bapak zinanya, maka si anak (laki-laki maupun perempuan) tidak memiliki hak untuk mewarisi. Akan tetapi, jika pewarisnya adalah ibunya, maka ia berhak mewarisi.
 
Selain itu juga, di dalam Islam tidak dikenal anak angkat, akan tetapi seandainya sudah terlanjut mengangkat anak dan tidak diketahui siapa orang tuanya, maka mereka adalah saudaramu di dalam agama mawali bagimu (Alquran 33 : 5).
 
Sekian tulisan dari pengantar hukum mengenai bagian yang diterima oleh ahli waris, semoga tulisan pengantar hukum mengenai bagian yang diterima oleh ahli waris dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Pengantar Hukum :

– Titik Triwulan Tutik, 2006. Pengantar Hukum Perdata. Yang Menerbitkan Prestasi Pustaka : Jakarta.
Gambar Bagian Yang Diterima Oleh Ahli Waris

Gambar Bagian Yang Diterima Oleh Ahli Waris

 
Bagian Yang Diterima Oleh Ahli Waris | Sanusi |