Pengertian Hukum Waris Menurut Para Ahli

Hai Pembaca Setia, Kali ini Pengantar Hukum akan membahas mengenai pengertian hukum waris menurut para ahli.
 
 
Menurut Salim HS, Pengertian Hukum Waris adalah keseluruhan kaidah-kaidah hukum, baik itu tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur mengenai pemindahan harta kekayaan pewaris kepada ahli warisnya, bagian yang diterima, serta hubungan antara ahli waris dengan pihak ke tiga.
 
Pengertian Hukum Waris Menurut Soepomo adalah sekumpulan hukum yang mengatur proses pengoperan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
 
 
Van Dijk juga mengemukakan Pengertian Hukum Waris, yaitu suatu kompleks kaidah-kaidah yang mengatur proses penerusan dan pengoperan daripada harta, baik itu materiil maupun immateriil dari generasi ke generasi berikutnya.
 
 
Menurut Vollmar, Pengertian Hukum Waris ialah perpindahan dari sebuah harta kekayaan seutuhnya, jadi keseluruhan hak-hak dan kewajiban, dari orang yang mewariskan kepada warisnya. Jika dikaji pendapat-pendapat tersebut difokuskan kepada pemindahan harta kekayaan dari pewaris kepada ahli warisnya.
 
 
Pengertian Hukum Waris Menurut A Pitlo ialah suatu rangkaian ketentuan-ketentuan yang di mana berhubungan dengan meninggalnya seseorang, akibat-akibatnya di dalam kebendaan, diatur, yaitu : akibat dari beralihnya harta peninggalan dari seorang yang meninggal, kepada ahli waris, baik di dalam hubungannya di antara mereka sendiri, maupun dengan pihak ke tiga.
 
 
Menurut Pasal 830 KUH Perdata, Pengertian Hukum Waris adalah hukum yang mengatur kedudukan hukum harta kekayaan seseorang setelah ia meninggal, terutama berpindahnya harta kekayaan itu kepada orang lain. Namun dalam Pasal 171 huruf (a) Inpres No. 1 Tahun 1991 menyatakan bahwa, Pengertian Hukum Waris ialah hukum yang mengatur mengenai pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan beberapa bagian masing-masing.
 
 
Dalam Kompilasi Islam, Pengertian Hukum Waris adalah hukum kewarisan yang berlaku bagi orang islam saja. Adapun tujuan hukum waris islam yaitu untuk mengatur cara-cara membagi harta peninggalan agar supaya dapat bermanfaat kepada ahli waris secara adil dan baik. Untuk itu Islam tidak hanya memberikan warisan kepada pihak suami atau isteri saja, akan tetapi juga dari kedua belah pihak baik garis ke atas, garis ke bawah, atau garis ke sisi; sehingga hukum waris islam bersifat bilateral individual.
 
 
Pendapat Pitlo dan Salim HS tersebut di atas memuat pengertian hukum waris secara lebih luas, karena di dalam pemindahan kekayaan itu, tidak hanya hubungan antara ahli waris yang satu dengan ahli waris yang lain, akan tetapi juga diatur mengenai hubungan antara ahli waris dengan pihak ke tiga yang berkaitan dengan masalah hutang piutang pewaris pada saat hidup.
 
 
Berbeda dengan Asser Mayers, menurut dia tidak ada tempat bagi suatu peraturan hukum waris dalam arti yang sebenarnya (Eigenlijk Erfrecht), oleh karena meninggalnya seseorang bukan barang miliknya yang beralih, melainkan hanya hal mengurus barang itu saja yang harus dilanjutkan oleh orang lain yang masih hidup.
 
 
Pendapat Mayers tersebut dapat dimengerti, karena jika Hukum Waris hanya dianggap mengenai peralihan hak milik atas barang, bagaimana halnya dengan kewajiban dari apa yang ada di dalam hak milik atas barang tersebut. Jadi jelaslah bahwa hukum waris menyangkut keseluruhan, yaitu keseimbangan hak dan kewajiban atas apa yang ada di dalam hak milik atas barang tersebut.
 
 
Sekian tulisan dari pengantar hukum mengenai pengertian hukum waris menurut para ahli, semoga tulisan pengantar hukum mengenai pengertian hukum waris menurut para ahli dapat bermanfaat.
 

Sumber : Tulisan Pengantar Hukum :

– Titik Triwulan Tutik, 2006. Pengantar Hukum Perdata. Yang Menerbitkan Prestasi Pustaka : Jakarta.
Gambar Pengertian Hukum Waris Menurut Para Ahli

Gambar Pengertian Hukum Waris Menurut Para Ahli

 
Pengertian Hukum Waris Menurut Para Ahli | Sanusi |